Bahkan malam masih bergelantung dilangit. hembus angin ini membawaku pada fajar yang belum datang. bulan, ombak, dan karang. hari dimana aku melihat diriku sendiri. Pertengkaranku dengan Dinda begitu membekas. Tanggung jawab yang ku bawa begitu berat. pancaran cahaya Bulan tepat diatas kepalaku, membentuk pada ombak yang tenang.
"andaikan bukan aku yang membawa cerita ini. andaikan Nino tak pernah memberi surat itu, andaikan,, andaikan semua ini. andaikan" suara hatiku memecah ombak.
keteguhanku mungkin tak sekuat karang. tapi, aku harus selalu berpura-pura menjadi karang. air mata bahkan tak lagi bisa ku tahan. lautan yang tenang bermulai untuk mengartikan rasaku.
" setauku, ketika seorang perempuan
Mei 26, 2015
Mei 25, 2015
Salah Paham
Seribu pertanyaan menghampiri Laras, tentang apa yang baru saja terjadi.
Pipi kanan merahnya tak cukup menggambarkan semua. Dinda tak perduli
apa yang telah ia lakukan pada Laras.
“siapa suruh mencari perkara denganku. Itu lah rasa yang aku rasakan ketika kau bersama Nino berjalan di depan mataku.” Dinda berbicara di dalam hati.
Melihat wajah Laras dengan bekas tamparan Dinda, Nino merasa bersalah. Rasanya ia ingin berlari dan menampar kembali Dinda. Namun, itu hanya menambah panjang masalah ini. Gelar Ketua dan wakil panitia perpisahan sepertinya akan tambah menjadi pisau belati yang semakin membunuh Laras.
Heningnya siang
“siapa suruh mencari perkara denganku. Itu lah rasa yang aku rasakan ketika kau bersama Nino berjalan di depan mataku.” Dinda berbicara di dalam hati.
Melihat wajah Laras dengan bekas tamparan Dinda, Nino merasa bersalah. Rasanya ia ingin berlari dan menampar kembali Dinda. Namun, itu hanya menambah panjang masalah ini. Gelar Ketua dan wakil panitia perpisahan sepertinya akan tambah menjadi pisau belati yang semakin membunuh Laras.
Heningnya siang
Langganan:
Komentar (Atom)