Mei 11, 2014

BER-3 – BERANI BEDA ITU BAIK


Berawal dari curhatan yang sering mampir ke telinga aku. Terwujudlah niat untuk merekam semua di sebuah susunan kalimat berupa cerita dengan judul “BER-3 – BERANI BEDA ITU BAIK”. Oke, tanpa berlama-lama mari kita ke awal cerita.
Di sebuah kos-kosan kecil tinggal 3 orang gadis Anika, Titin dan Sukma.  Mereka adalah 3 sahabat yang memiliki dunia masing-masing. Tapi, mereka bisa menyatukan dunia yang berbeda itu dalam wadah persahabatan. Mereka bertiga duduk dibangku SMK. Sebenarnya rumah dan sekolah mereka tidak jauh, namun hanya untuk iseng-iseng saja mereka menyewa kamar kos. Kadang kala kalau lagi tidak ingin pulang ke rumah mereka menginap di kosan.
Suatu malam yang panas, Titin dan Anika sedang

Mei 08, 2014

Hitam dan Putih

Ini adalah edisi pengalaman pribadi.
selamat membaca :)
Semua itu terjadi begitu saja. Aku pun tak tau bermula dari mana. Mungkin kita dapat memulainya dari awal pekenalanku dan dua sahabatku. Sebelumnya kenalkan aku Ulfatin Sukmaratri. Seorang yang telah akrab denganku biasa memanggilku Sukma. Namun, semenjak aku kelas VII SMP aku mendapat panggilan baru Ulfatin. Yapps lebih lagi beberapa tahun kemudian sedang terkenal seorang penyanyi berjilbab Fatin Shidqia Lubis. Semakin dikenalah aku dengan nama Ulfatin. Tapi panggilah aku sukma. Aku lebih suka nama itu.

Baiklah, kita mulai saja. Dari kisah hitam

Mei 07, 2014

Ujung Penantian (versi lengkap)



Berteman sepi di sini. Tempat di mana awal tawa itu. Stasiun kota. Ya. Stasiun kota ini. Teringat betul saat kau tanyakan untuk apa aku di sini. Dan ku jawab aku hanya ingin numpang menulis. Kau tertawa, begitu lepas.
          “hanya numpang nulis?” tanyamu dengan sedikit menyembunyikan tawa.
Aku heran mengapa kau tertawa. “apa ada yang salah dengan yang aku lakukan ?” tanyaku.
Kau tak menjawab, kau bergegas pergi meninggalkanku.
          “anehh, apa dia sedikit..” kebinggungan ku padamu semakin jadi saat kau tinggal sebuah kertas di tempat dudukmu.
          “hey! Kau meninggalkan sesuatu!” teriakku nengingatkanmu.
Kau tetap berjalan masuk ke keretamu yang terlihat tak sabar untuk membawamu pergi dariku.
          “untukmu wanita asing
          Perlu kau tau beberapa hal. Ku pikir

Mei 06, 2014

Ujung Penantian (2)



Keesokan harinya aku datiang kembali di tempat itu. Secara raga mungkin aku telah lelah dan bosan menantimu. Namun hatiku. Apalah arti perasaan ini.
               “Galang, tempat ini masih sama. Apa dirimu juga masih sama?” tanyaku kepada bangku peron. Ku ambil buku catatanku. Ku tuliskan kereinduan ku terhadap Galang.
               “masih suka nulis di stasiun?” Tanya seorang penggunjung.
Ku tengok wajahnya. “Galang?” aku terkejut. Aku tak peraya.
               “hai! Apa kabarmu?” sapanya.
               Apa kau tak lihat kekecewaan di wajahku? “ohh.. aku baik. Bagaimana denganmu?” kataku dengan sedikit menahan tangis.
               “tak pernah sebaik ini sebelumnya.”
Aku berharap kau merasa baik karena aku, Galang. Bukan karena yang lain.
               “syukurlah kalau begitu.”
Kita berbincang, mengingat masa yang dulu indah. Bercerita tentang hidup yang kita alami selama tak bertemu. Menuangkan rindu di atas secangkir kopi yang kau bawa untukku.
   “Adrian !!” teriak seorang gadis ke arah aku dan Galang.

Mei 05, 2014

Ujung Penantian (1)


Berteman sepi di sini. Tempat di mana awal tawa itu. Stasiun kota. Ya. Stasiun kota ini. Teringat betul saat kau tanyakan untuk apa aku di sini. Dan ku jawab aku hanya ingin numpang menulis. Kau tertawa, begitu lepas.
               “hanya numpang nulis?” tanyamu dengan sedikit menyembunyikan tawa.
Aku heran mengapa kau tertawa. “apa ada yang salah dengan yang aku lakukan ?” tanyaku.
Kau tak menjawab, kau bergegas pergi meninggalkanku.

Mei 01, 2014

Mimpi : Dompet Coklat




Bukan hari yang istimewa. Semua masih sama seperti biasa. Bangun pagi, masak, mandi, ke sekolah hanya begitulah aku mengawali hariku. SMK Pemuda, tempat di mana aku bersekolah. Di sana aku mencurahkan kebosananku.
            “buk, aku pamit.” Sapaku pada bidadari surgaku.
            “nduk, ini maem e.” ibu berlari ke arahku.
            Berjabat tangan dengannya merupakan hal yan tak bisa aku tinggalkan. Salam terucap dariku diikuti balasan dan do’a darinya. Tak sempat aku melakukan hal yang sama kepada ayah karena ia telah pergi ke ladang mengurus sawah peninggalan Kakek.
            Langkah kecil ini tak sama seperti kemarin.
Aku melihat seorang Ibu yang berteriak meminta tolong