Mei 01, 2014

Mimpi : Dompet Coklat




Bukan hari yang istimewa. Semua masih sama seperti biasa. Bangun pagi, masak, mandi, ke sekolah hanya begitulah aku mengawali hariku. SMK Pemuda, tempat di mana aku bersekolah. Di sana aku mencurahkan kebosananku.
            “buk, aku pamit.” Sapaku pada bidadari surgaku.
            “nduk, ini maem e.” ibu berlari ke arahku.
            Berjabat tangan dengannya merupakan hal yan tak bisa aku tinggalkan. Salam terucap dariku diikuti balasan dan do’a darinya. Tak sempat aku melakukan hal yang sama kepada ayah karena ia telah pergi ke ladang mengurus sawah peninggalan Kakek.
            Langkah kecil ini tak sama seperti kemarin.
Aku melihat seorang Ibu yang berteriak meminta tolong
karena di jambret seorang laki-laki. Saat ku dekati dan ku dengar ciri-ciri penjambret itu aku bergegas lari dan mencarinya. Setelah menyusuri pasar aku berhenti di sebuah toko milik Koko Liem (Lim).
            “ko air mineral satu ya.” Mintaku dengan napas yang mau tak mau dihembuskan.
            “kamu kenapa Na ? kayak mau ngejar maling aja. Ini airnya.” Kata mas Alaka, anak koko Liem. Cowok keturunan Cina yang pernah aku taksir. Entah kapan itu. Mungkin saat aku SD. Sudah lama betul aku tak bertemu dengannya. Saat ini ia makin tampan. Mata sipit, lesung pipi, tubuh tinggi, kulit putih. Dia sekolah di Berlin, Jerman. Entah kapan ia kembali.
            “Mas. Kapan pulang ? ohh iya. Ini tadii…” kalimatku terputus saat aku melihat seorang yang sama dengan yang dikatakan Ibu tadi. “jaket hitam, sragam putih abu-abu, dompet coklat di tangan. Diaaaa?” Tak pikir panjang aku memukul laki-laki itu, dan aku tarik tangannya kebelakang.
            “woyyy apa-apaan ini ?!”
            “dasar copet ! kembalikan dompet itu !”
            “dompet ?”
            “ahh brisikk mana!”
Entah pura-pura lupa atau memang tak mau mengaku. Segera saja aku merebut dompet di tangannya.
            “Na ? ada apa sih sebenernya ?” mas Alaka bingung.
            “ini mas copetnya !” kataku. Sepertinya mas Alaka tak percaya denganku. Dia justru tertawa. Entah apa yang ia tertawakan.
            “sotoyy!” laki-laki itu balik menarik tanganku.
            “aaakk, sakit !”
            Segrombolan oramg lewat di depanku, menarik seorang laki-laki berseragam putih abu-abu dan berteriak pada seorang yang mengunci tanganku.
            “makasih ya mas !”
Jadi laki-laki ini yang membantu menangkap jambret itu. Betapa malunya aku.
            “tuuhh denger.” Katanya padaku tepat disamping telingaku makin membuatku malu. Ia melepaskan aku dan merebut kembali dompetnya. Berjalan menuju arah Mas Alaka. Aku rasa mereka telah saling mengenal. Aku makin dibuat malu.
            “sangat memalukan.” Kataku pada diriku sendiri.
            “Na ? kamu nggak sekolah ?” Mas Aka mengingatkan.
            “ha? Sekolah ? iya sekolah. Aku telat. Oh ya ampun.” Aku terkejut. “mas sekolah dulu yaaa!” pamitku sambil berlari.
            “ehh, mas ini tasnya cewek itu kok ditinggal.”
            “namanya Sena Sarasati, biasa di panggil Nana.”
            “aku nggak Tanya nama.”
            “dahh sana sekolah. Sekalian bawa tasnya Nana !” perintah mas Aka. “dia juga sekolah di tempat kamu daftar kemarin kok. Dia jurusan Gambar Bangunan 2.” Lanjutnya.
            Dengan tampang datar laki-laki itu menghidupkan motornya. Berangakat menyusulku.
            Cowok itu berhenti di depanku.
            “Sena Sarasati ? naik ! ini tasnya.”
            Dengan setengah sadar aku bertanya, “kok kamu tau namaku ?”
            “brisik, udah telat ini !” bentaknya padaku. Sepontan aku naik ke motornya.
Tanpa sepatah kata lagi laki-laki ini mengegas motornya seperti ingin ikut balapan. Jantung aku rasanya mau lepas ari gagangnya. Kalau aku minta dia pelan-pelan takutnya aku malah diturunkan di jalan. Pemandangan pagi ini bukan wajah tukang sayur, atau kepala berkalung anduk robek. Namun, kepala berhelm dengan punggung berkalung tas warna hitam. Andaikan aku tau namanya. Mungkin itu akan lebih baik.
            “turun !”
            “ha?” aku kaget. “Eh iya..” aku pun turun dari motor hitamnya. Aku rasa apa yang ada di dia hitam semua. Tanpa ragu ia menarik tanganku. Aku menatap mata sipit yang mirip Mas Alaka itu.
            “kenapa ia menarik tanganku?” tanyaku dalam hati.
            “jangan salah paham, kita hampir telat. Ayo cepat !” Ia kembali berteriak.
            Aku baru sadar kalau aku telat. “Aku telat !” teriaku. Aku lalu berlari meninggalkannya. Setelah beberapa langkah aku berbalik dan menarik tangannya, “kenapa diam? Ayo!”
Dua orang yang baru saja bertemu pagi ini berlari bersama. Dengan langkah yang sama. Dengan tujuan yang sama. Pintu gerbang.
Di saat aku berlari dan kakiku tersandung aku terbangun dari mimpiku.