“buk, aku
pamit.” Sapaku pada bidadari surgaku.
“nduk, ini
maem e.” ibu berlari ke arahku.
Berjabat
tangan dengannya merupakan hal yan tak bisa aku tinggalkan. Salam terucap
dariku diikuti balasan dan do’a darinya. Tak sempat aku melakukan hal yang sama
kepada ayah karena ia telah pergi ke ladang mengurus sawah peninggalan Kakek.
Langkah kecil
ini tak sama seperti kemarin.
Aku melihat seorang Ibu yang berteriak meminta tolong
karena di jambret seorang laki-laki. Saat ku dekati dan ku dengar ciri-ciri penjambret itu aku bergegas lari dan mencarinya. Setelah menyusuri pasar aku berhenti di sebuah toko milik Koko Liem (Lim).
Aku melihat seorang Ibu yang berteriak meminta tolong
karena di jambret seorang laki-laki. Saat ku dekati dan ku dengar ciri-ciri penjambret itu aku bergegas lari dan mencarinya. Setelah menyusuri pasar aku berhenti di sebuah toko milik Koko Liem (Lim).
“ko air
mineral satu ya.” Mintaku dengan napas yang mau tak mau dihembuskan.
“kamu kenapa
Na ? kayak mau ngejar maling aja. Ini airnya.” Kata mas Alaka, anak koko Liem.
Cowok keturunan Cina yang pernah aku taksir. Entah kapan itu. Mungkin saat aku
SD. Sudah lama betul aku tak bertemu dengannya. Saat ini ia makin tampan. Mata
sipit, lesung pipi, tubuh tinggi, kulit putih. Dia sekolah di Berlin, Jerman.
Entah kapan ia kembali.
“Mas. Kapan
pulang ? ohh iya. Ini tadii…” kalimatku terputus saat aku melihat seorang yang
sama dengan yang dikatakan Ibu tadi. “jaket hitam, sragam putih abu-abu, dompet
coklat di tangan. Diaaaa?” Tak pikir panjang aku memukul laki-laki itu, dan aku
tarik tangannya kebelakang.
“woyyy
apa-apaan ini ?!”
“dasar copet
! kembalikan dompet itu !”
“dompet ?”
“ahh brisikk
mana!”
Entah pura-pura lupa atau memang tak
mau mengaku. Segera saja aku merebut dompet di tangannya.
“Na ? ada apa
sih sebenernya ?” mas Alaka bingung.
“ini mas
copetnya !” kataku. Sepertinya mas Alaka tak percaya denganku. Dia justru
tertawa. Entah apa yang ia tertawakan.
“sotoyy!”
laki-laki itu balik menarik tanganku.
“aaakk, sakit
!”
Segrombolan
oramg lewat di depanku, menarik seorang laki-laki berseragam putih abu-abu dan
berteriak pada seorang yang mengunci tanganku.
“makasih ya
mas !”
Jadi laki-laki ini yang membantu menangkap jambret itu. Betapa
malunya aku.
“tuuhh
denger.” Katanya padaku tepat disamping telingaku makin membuatku malu. Ia melepaskan
aku dan merebut kembali dompetnya. Berjalan menuju arah Mas Alaka. Aku rasa
mereka telah saling mengenal. Aku makin dibuat malu.
“sangat
memalukan.” Kataku pada diriku sendiri.
“Na ? kamu
nggak sekolah ?” Mas Aka mengingatkan.
“ha? Sekolah
? iya sekolah. Aku telat. Oh ya ampun.” Aku terkejut. “mas sekolah dulu yaaa!”
pamitku sambil berlari.
“ehh, mas ini
tasnya cewek itu kok ditinggal.”
“namanya Sena
Sarasati, biasa di panggil Nana.”
“aku nggak
Tanya nama.”
“dahh sana
sekolah. Sekalian bawa tasnya Nana !” perintah mas Aka. “dia juga sekolah di
tempat kamu daftar kemarin kok. Dia jurusan Gambar Bangunan 2.” Lanjutnya.
Dengan
tampang datar laki-laki itu menghidupkan motornya. Berangakat menyusulku.
Cowok itu
berhenti di depanku.
“Sena
Sarasati ? naik ! ini tasnya.”
Dengan
setengah sadar aku bertanya, “kok kamu tau namaku ?”
“brisik, udah
telat ini !” bentaknya padaku. Sepontan aku naik ke motornya.
Tanpa sepatah kata lagi laki-laki ini mengegas motornya
seperti ingin ikut balapan. Jantung aku rasanya mau lepas ari gagangnya. Kalau
aku minta dia pelan-pelan takutnya aku malah diturunkan di jalan. Pemandangan
pagi ini bukan wajah tukang sayur, atau kepala berkalung anduk robek. Namun,
kepala berhelm dengan punggung berkalung tas warna hitam. Andaikan aku tau
namanya. Mungkin itu akan lebih baik.
“turun !”
“ha?” aku
kaget. “Eh iya..” aku pun turun dari motor hitamnya. Aku rasa apa yang ada di
dia hitam semua. Tanpa ragu ia menarik tanganku. Aku menatap mata sipit yang
mirip Mas Alaka itu.
“kenapa ia
menarik tanganku?” tanyaku dalam hati.
“jangan salah
paham, kita hampir telat. Ayo cepat !” Ia kembali berteriak.
Aku baru
sadar kalau aku telat. “Aku telat !” teriaku. Aku lalu berlari meninggalkannya.
Setelah beberapa langkah aku berbalik dan menarik tangannya, “kenapa diam?
Ayo!”
Dua orang yang baru saja bertemu pagi
ini berlari bersama. Dengan langkah yang sama. Dengan tujuan yang sama. Pintu
gerbang.
Di saat aku berlari dan kakiku tersandung aku terbangun dari mimpiku.