Bahkan malam masih bergelantung dilangit. hembus angin ini membawaku pada fajar yang belum datang. bulan, ombak, dan karang. hari dimana aku melihat diriku sendiri. Pertengkaranku dengan Dinda begitu membekas. Tanggung jawab yang ku bawa begitu berat. pancaran cahaya Bulan tepat diatas kepalaku, membentuk pada ombak yang tenang.
"andaikan bukan aku yang membawa cerita ini. andaikan Nino tak pernah memberi surat itu, andaikan,, andaikan semua ini. andaikan" suara hatiku memecah ombak.
keteguhanku mungkin tak sekuat karang. tapi, aku harus selalu berpura-pura menjadi karang. air mata bahkan tak lagi bisa ku tahan. lautan yang tenang bermulai untuk mengartikan rasaku.
" setauku, ketika seorang perempuan
menangis hanya ada 2 kemungkinan . dia sedag begitu bahagia atau sedang begitu terluka." suara asing dari sisi kananku. suara yang begitu berat. perasaanku berubah menjadi takut. aku tak memiliki cukup keberanian untuk melihat siapa dia. hanya ombak dan karang yang ada dalam pandanganku kini.
"lalu apa yang kau rasakan saat ini." suara itu semakin dekat. "berikan aku jawaban, aku bertanya padamu!" lanjutnya.
dadaku semakin terasa sesak ketika mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. lebih sesak lagi ketika aku melihat lelaki ini dengan mermandikan cahaya bulan,. "Nino," kata yang begitu terucap saat ku melihatnya. udara di sekelilingku seakan menjauh. dada ini terasa begitu sakit. lalu, jutaan pertanyaan bersarang dikepalaku. untuk apa dia disini. dengan siapa dia disini. bagaimana bisa. mengapa. kapan dan karena apa. dan semua kemungkinan lain berputar semakin menjadi.
"hapus air matamu. lalu katakan apa yang sebenarnya terjadi." Nino duduk disampingku.
di depan sang samudra ini, badanku justru lebih basah karena keringat. ketakutanku lebih menjadi saat nama Dinda bersarang dipikiranku.tak ada kata yang bisa ku ucap hanya nafas dan tangis yang terdengar dan disapu debur sang ombak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar