Mei 25, 2015

Salah Paham

Seribu pertanyaan menghampiri Laras, tentang apa yang baru saja terjadi. Pipi kanan merahnya tak cukup menggambarkan semua. Dinda tak perduli apa yang telah ia lakukan pada Laras.
“siapa suruh mencari perkara denganku. Itu lah rasa yang aku rasakan ketika kau bersama Nino berjalan di depan mataku.” Dinda berbicara di dalam hati.
Melihat wajah Laras dengan bekas tamparan Dinda, Nino merasa bersalah. Rasanya ia ingin berlari dan menampar kembali Dinda. Namun, itu hanya menambah panjang masalah ini. Gelar Ketua dan wakil panitia perpisahan sepertinya akan tambah menjadi pisau belati yang semakin membunuh Laras.
Heningnya siang
itu tertutup oleh riuhnya rintik hujan yang membubarkan kerumunan itu. Dinda pergi tanpa satu kata terucap. Hanya mata merah yang melihat Laras dalam keadaan berantakan, dan berpaling menuju Nino yang tertunduk. Tinggalah Laras dan Nino. Nino mendekat dengan wajah penuh penyesalan.
“aku yang membuatmu begini, namun aku tak dapat melakukan apapun untuk menyelamatkanmu. Aku mohom maaf.”
“dengan tetap menjaga jarak dariku, itu sudah lebih dari cukup. ” Laras memandang wajah Nino dalam-dalam. “dia sahabatku tapi mungkin jika kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin itu akan membantu.” Lanjutnya sambil mengambil tasnya di lantai.
Nino terdiam seribu bahasa. Tak mengucap apapun. Dalam hatinya ia tak sedikitpun berniat menghancurkan persahabatan Laras dan Dinda. Sebenarnya Nino tak pernah berharap Dinda menjadi kekasihnya. Semua adalah salah paham. Surat yang dulu Nino kirim sebenarnya untuk Laras. Namun, Dinda yang menemukanya. Tapi apalah kini nasi telah menjadi bubur. Dinda telah beranggapan bahwa Nino adalah miliknya seorang.
“satu hal lagi. Aku mundur dari acara ini. Saat ini aku bukan wakilmu.” Laras menutup pembicaraan.
Betapa terkejutnya Nino mendengar itu. Ia berlari mengejar Laras. Menarik tangan Laras.
“hanya karna ini kau mengorbankan acara milik sekolah?” Tanya Nino dengan perasaan makin bersalah.
“aku tak ingin membunuh diriku sendiri. Aku ingin aku bebas melakukan hal yang aku mau. Aku tak ingin melukai siapapun. Dan sudah aku katakana Dinda itu sahabatku.” Jelas Laras lebih lanjut.
“bodoh. Kau pengecut. Aku pikir kau lebih berani dari yang aku pikirkan. Tapi ternyata kau lebih penakut dari itu. Kau lepas tanggung jawabmu terhadap tempat dimana kau melalui hari panjangmu.”
Kata-kata itu menusuk hati Laras. Tanggung jawabnya atau hidupnya yang harus ia pilih. Dengan menjadi wakil panitia Laras memiliki waktu lebih lama bersama Nino. Itu artinya kesempatan hidupnya semakin sedikit.
“tapii akuu..”
“sudahlah. Lupakan apa yang terjadi hari ini acara sekolah tetap harus dilaksanakan. Tetaplah menjadi wakilku. Aku akan jelaskan semua pada Dinda.” Potong Nino.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar