Maret 01, 2014

CERITA PERPISAHAN


“tuan, senja ini tak ku lihat murung di wajahnya, hanya ku lihat jingga mempesona.” Kataku padamu. “nona, kau keliru, kali ini senja tertutup tirai abu.” Jawabmu dengan sedikit kebingungan.

“aku tak keliru tuan, karenaku melihat tak dari mataku. Aku melihat dari dalam hatiku. Karena mataku terlalu buta untuk melihat suramnya dunia.” Kataku. dan kau bertanya,
“nona, dapatkah semua itu kau lakukan ?”


Aku tersenyum dan mengatakan, “mulailah  hidup dengan hatimu. Menyusuri dunia yang indah yang tak pernah kau lihat dengan dua matamu.” Sontak tatapmu berubah. “maaf nona, hatiku telah runtuh tak tersisa.”

“kan kupinjamkan hatiku, kan kau rasakan apa yang kurasakan. Buramnya dunia tak terasa karena tlah terbiasa.” Kataku.

Suara kereta tua mandekat, mengingatkan akan waktu yang tak panjang.

“keretamu telah datang, tuan.” Aku mengingatkan.

“maaf nona, aku akan tetap tinggal. Aku akan meminjam hatimu sejenak untuk  hidup. Bersediakah kau ?”

“aku yang menawarkanmu, tentu aku bersedia.”