“tuan, senja ini
tak ku lihat murung di wajahnya, hanya ku lihat jingga mempesona.” Kataku
padamu. “nona, kau keliru, kali ini senja tertutup tirai abu.” Jawabmu dengan
sedikit kebingungan.
“aku tak keliru
tuan, karenaku melihat tak dari mataku. Aku melihat dari dalam hatiku. Karena
mataku terlalu buta untuk melihat suramnya dunia.” Kataku. dan kau bertanya,
“nona, dapatkah semua itu kau lakukan ?”
“nona, dapatkah semua itu kau lakukan ?”
Aku tersenyum dan
mengatakan, “mulailah hidup dengan
hatimu. Menyusuri dunia yang indah yang tak pernah kau lihat dengan dua
matamu.” Sontak tatapmu berubah. “maaf nona, hatiku telah runtuh tak tersisa.”
“kan kupinjamkan
hatiku, kan kau rasakan apa yang kurasakan. Buramnya dunia tak terasa karena
tlah terbiasa.” Kataku.
Suara kereta tua
mandekat, mengingatkan akan waktu yang tak panjang.
“keretamu telah
datang, tuan.” Aku mengingatkan.
“maaf nona, aku
akan tetap tinggal. Aku akan meminjam hatimu sejenak untuk hidup. Bersediakah kau ?”
“aku yang
menawarkanmu, tentu aku bersedia.”