November 09, 2014

Es Teh Anget

Hari yang sial. Pak Satpam penjaga gerbang yang biasanya memberikan jalan untukku masuk kini telah di ancam oleh pihak sekolah.
                 “siapapun yang terlambat harus mendapat persetujuan dari Kepala Sekolah untuk dapat mengikuti pelajaran.” Katanya.
                 Alhasil aku dan laki-laki ini harus mendapat hukuman sebelum ikut pelajaran. Motong rumput taman belakang sekolah dengan gunting rambut. Butuh setumpuk kersabaran untuk menyelesaikannya.  Satu persatu rumput ini aku potong-potong. Jika tidak ada suara air mancur di tengah taman, mungkin suasana itu benar-benar sunyi. Sangat sunyi sepi.
                 “lalu. Sebenarnya siapa kamu ini ?” tanyaku memecah hening. 
      
                 Dia tak menjawabnya. Aku rasa dia bisu tapi dia tadi mengajakku bicara. Atau dia tuli. Tapi tak mungkin. Dia tadi mendengarku memarahinya. Lalu kenapa denganya? Seribu pertanyaan berdesakan di dalam kepalaku.
                 Tiba-tiba ia mendekat ke arahku. Duduk di sampingku.
                 “namaku Ardian Panjiaksa.” Katanya
                 Aku melihat matanya lagi ingin menanyakan sesuatu tapi ia terlanjur menjawab, “adik sepupu mas Alaka. Laki-laki yang dulu kau suka.”
                 Mendengar perkataanya itu aku terkejut. Amat terkejut. Entah dari mana ia tau. Atau ia bisa membaca pikiran orang lain. Tamatlah sudah riwayatku.
                 “kenapa diam ?” tanyanya padaku.
                 Lalu aku harus menjawab apa. Aku tak ingin tampak takut dihadapannya. Akupun tak mau menatanya lagi.
                 “aku bicara kepadamu, Sena.” Lanjutnya.
                 “aku hanya sedikit kaget. Kau adik sepupu dari Mas Alaka. Pantas kau mirip aku kira kau adik kandungnya.” Jawabku sambil perpindah tempat.
                 “aku kira kau kaget karena aku tau kau menyukainya.” Ardian mendekatiku lagi.
                 “lupakanlah. Itu sudah dulu.”
                 “tapi kau masih menaruh harap bukan?”
                 “aku akan pergi ke kantin udaranya mulai panas. Dan aku haus.”
Dengan terburu-buru aku berlari ke kantin.  Semoga Ardian tak mengikutiku. Kantin benar-benar sepi. Ku lihat Pak Jarwo sedang membereskan dagangannya. Aku mendekat.
                 “pak mau beli..”
                 “beli apa ?”
                 “Es Teh”
                 “anget..” suara dari belakang.
                 “kau bercanda? Mbak kalau Es Teh itu tidak ada yang Anget.” Pak Jarwo heran.
                 “saya tidak pesan Es Teh Anget. Saya pesan Es Teh.”
                 “anget..” suara itu lagi.
                 “kalau mau buat Es Teh Anget buatlah sendiri. Saya masih mau ambil dagangan. Lagian bukannya di kelas malah di kantin.” Pak Jarwo kesal.
                 “Aneh deh di kantin ini hanya ada aku. Semua murid masuk dikelas. Guru-guru ngajar. Lalu siapa yang.. oh iya pasti Ardian.”
                 “Ardian ! keluar !”
                 “haa..haa…haaa…” ia keluar dengan tawa yang lepas. Sepetinya hatinya sangat bahagia. Tawanya membuatku kesal. Makin kesal.
                 “ihh, iseng banget dehh.”
                 “haa..haa..haa.. aduh perutku sakit. Ahaaa…haaa..”
                 Pak jarwo datang dengan wajah kebingungan. “ada apa to ini ?”
                 “nggak papa pak. Aku mau Es teh.”
                 “dua ya pak saya juga.”
                 Kami pun duduk bersama. Tapi Ardian masih juga tertawa. Benar-benar seperti melihat Mas Alaka.
                 “ini Es Tehnya tapi nggak anget yaa.” Goda Pak Jarwo. Yang makin membuat Ardian tertawa.

                 Awan mulai menjadi abu. Langit pun tak lagi biru. Menikmati angin menabur daun-daun. Memandang seorang yang kini tak lagi asing. Ardian. Baru pagi ini aku bertemu dengannya. Tapi serasa telah lama mengenalnya. Sekarang ia ada di depanku. Dengan segelas es teh. Dengan keringat yang perlahan menetes dari dahinya. Bukan lagi hal yang asing. Sepertinya.
                 “kau pikir aku ini apa ? patung museum ? aku tau aku tampan tapi janganlah menatapku begitu.”
                 Suara halus itu membuatku memalingkan wajah.
                 “bisakah kau minum pelan-pelan. Seperti tak pernah minum  saja.”
                 “kau menginginkannya ?” memberiku segelas es teh miliknya.
                 “sudahlah. Aku ingin bertanya sesuatu. Bolehkah?”
                 “jangan masalah pribadi apalagi status sudah punya pacar belum.”
                 “aku tau kau jomblo. Santai saja.”
                 “lalu apa yang akan kau tanyakan?”
                 Belum juga ku jawab bel sekolah sudah berbunyi. Tanpa sepatah kat ia lalu pergi begitu saja. Bahkan aku tak tau ia ada di jurusan apa di sekolah ini. Dari mana asalnya dia. Apa alasanya pindah ke sini. Aku bahkan belum jadi menanyakan apa mas Alaka sudah punya pasangan atau belum. Tapi tunggu kenapa pertanyaan terakhir itu sepertinya sedikit janggal. Entahlah. Besok akan kucoba tanyakan padanya. Tapi tidak untuk pertanyaan yang terakhir itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar