Hari yang sial. Pak Satpam penjaga gerbang yang biasanya
memberikan jalan untukku masuk kini telah di ancam oleh pihak sekolah.
“siapapun
yang terlambat harus mendapat persetujuan dari Kepala Sekolah untuk dapat
mengikuti pelajaran.” Katanya.
Alhasil
aku dan laki-laki ini harus mendapat hukuman sebelum ikut pelajaran. Motong
rumput taman belakang sekolah dengan gunting rambut. Butuh setumpuk kersabaran
untuk menyelesaikannya. Satu persatu
rumput ini aku potong-potong. Jika tidak ada suara air mancur di tengah taman,
mungkin suasana itu benar-benar sunyi. Sangat sunyi sepi.
“lalu.
Sebenarnya siapa kamu ini ?” tanyaku memecah hening.
Dia tak
menjawabnya. Aku rasa dia bisu tapi dia tadi mengajakku bicara. Atau dia tuli.
Tapi tak mungkin. Dia tadi mendengarku memarahinya. Lalu kenapa denganya?
Seribu pertanyaan berdesakan di dalam kepalaku.
Tiba-tiba
ia mendekat ke arahku. Duduk di sampingku.
“namaku Ardian
Panjiaksa.” Katanya
Aku
melihat matanya lagi ingin menanyakan sesuatu tapi ia terlanjur menjawab, “adik
sepupu mas Alaka. Laki-laki yang dulu kau suka.”
Mendengar
perkataanya itu aku terkejut. Amat terkejut. Entah dari mana ia tau. Atau ia
bisa membaca pikiran orang lain. Tamatlah sudah riwayatku.
“kenapa
diam ?” tanyanya padaku.
Lalu aku
harus menjawab apa. Aku tak ingin tampak takut dihadapannya. Akupun tak mau
menatanya lagi.
“aku
bicara kepadamu, Sena.” Lanjutnya.
“aku
hanya sedikit kaget. Kau adik sepupu dari Mas Alaka. Pantas kau mirip aku kira
kau adik kandungnya.” Jawabku sambil perpindah tempat.
“aku
kira kau kaget karena aku tau kau menyukainya.” Ardian mendekatiku lagi.
“lupakanlah.
Itu sudah dulu.”
“tapi
kau masih menaruh harap bukan?”
“aku
akan pergi ke kantin udaranya mulai panas. Dan aku haus.”
Dengan terburu-buru aku berlari ke kantin. Semoga Ardian tak mengikutiku. Kantin
benar-benar sepi. Ku lihat Pak Jarwo sedang membereskan dagangannya. Aku
mendekat.
“pak mau
beli..”
“beli
apa ?”
“Es Teh”
“anget..”
suara dari belakang.
“kau
bercanda? Mbak kalau Es Teh itu tidak ada yang Anget.” Pak Jarwo heran.
“saya
tidak pesan Es Teh Anget. Saya pesan Es Teh.”
“anget..”
suara itu lagi.
“kalau
mau buat Es Teh Anget buatlah sendiri. Saya masih mau ambil dagangan. Lagian
bukannya di kelas malah di kantin.” Pak Jarwo kesal.
“Aneh
deh di kantin ini hanya ada aku. Semua murid masuk dikelas. Guru-guru ngajar.
Lalu siapa yang.. oh iya pasti Ardian.”
“Ardian
! keluar !”
“haa..haa…haaa…”
ia keluar dengan tawa yang lepas. Sepetinya hatinya sangat bahagia. Tawanya
membuatku kesal. Makin kesal.
“ihh,
iseng banget dehh.”
“haa..haa..haa..
aduh perutku sakit. Ahaaa…haaa..”
Pak
jarwo datang dengan wajah kebingungan. “ada apa to ini ?”
“nggak
papa pak. Aku mau Es teh.”
“dua ya
pak saya juga.”
Kami pun
duduk bersama. Tapi Ardian masih juga tertawa. Benar-benar seperti melihat Mas
Alaka.
“ini Es
Tehnya tapi nggak anget yaa.” Goda Pak Jarwo. Yang makin membuat Ardian
tertawa.
|
|
“kau
pikir aku ini apa ? patung museum ? aku tau aku tampan tapi janganlah menatapku
begitu.”
Suara
halus itu membuatku memalingkan wajah.
“bisakah
kau minum pelan-pelan. Seperti tak pernah minum
saja.”
“kau
menginginkannya ?” memberiku segelas es teh miliknya.
“sudahlah.
Aku ingin bertanya sesuatu. Bolehkah?”
“jangan
masalah pribadi apalagi status sudah punya pacar belum.”
“aku tau
kau jomblo. Santai saja.”
“lalu
apa yang akan kau tanyakan?”
Belum
juga ku jawab bel sekolah sudah berbunyi. Tanpa sepatah kat ia lalu pergi
begitu saja. Bahkan aku tak tau ia ada di jurusan apa di sekolah ini. Dari mana
asalnya dia. Apa alasanya pindah ke sini. Aku bahkan belum jadi menanyakan apa
mas Alaka sudah punya pasangan atau belum. Tapi tunggu kenapa pertanyaan
terakhir itu sepertinya sedikit janggal. Entahlah. Besok akan kucoba tanyakan
padanya. Tapi tidak untuk pertanyaan yang terakhir itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar