Mei 05, 2014

Ujung Penantian (1)


Berteman sepi di sini. Tempat di mana awal tawa itu. Stasiun kota. Ya. Stasiun kota ini. Teringat betul saat kau tanyakan untuk apa aku di sini. Dan ku jawab aku hanya ingin numpang menulis. Kau tertawa, begitu lepas.
               “hanya numpang nulis?” tanyamu dengan sedikit menyembunyikan tawa.
Aku heran mengapa kau tertawa. “apa ada yang salah dengan yang aku lakukan ?” tanyaku.
Kau tak menjawab, kau bergegas pergi meninggalkanku.


               “anehh, apa dia sedikit..” kebinggungan ku padamu semakin jadi saat kau tinggal sebuah kertas di tempat dudukmu.
               “hey! Kau meninggalkan sesuatu!” teriakku nengingatkanmu.
Kau tetap berjalan masuk ke keretamu yang terlihat tak sabar untuk membawamu pergi dariku.
               untukmu seorang yang asing
               Perlu kau tau beberapahal. Ku pikir hanya aku seorang yang melakukan kegilaan menulis di stasiun tanpa kejelasan. Ternyata kaupun begitu. Kau gila dengan kata.
Sesorang yang sama denganmu,”

               Ya kau dan aku sama. Mulai dari situ, kau selalu menemuiku setiap kau ingin menulis. Jarak Jogja dan Semarang seakan tak menjadi penghalang. Namun, beberapa saat ini. Setelah kita menemui Ujian Nasional dan berbincang dengannya kau jarang sekali dating. Apa kau cemburu pada UN? Bukankah selama aku bercanda dengannya, kau juga berdua-duaan bersamanya pula?
               “Kinan ? kau masih bertahan menunggu Galang ?” Tanya Tiara. Tiara, seorang yang beberapa hari ini aku racuni dengan kebiasaanku dan Galang. Iya. Aku ingin ia temukan gilanya menulis di stasiun. Tapi itu tak akan pernah berhasil. Tiara sahabatku yang paling bawel ini selalu punya alasan untuk menghindar dari racunku.
               “iya. UN telah usai. Pasti kini ia akan datang.”
               “aku mau pulang aku telah bosan. Menunggumu bertemu pangeran katamu itu.” Katanya sambil menggambil tas.
Aku diam tak mencegah. Aku juga merasakan kebosanan itu. Menunggu bahagia yang akan hadir saat Galang turun dari kereta.
               “kau tak ingin ikut?” Tanya Tiara yang sepertinya sangat kasihan melihat burung merpati ini menunggu pasangan gilanya.
               “pulanglah!” jawabku.
Sepertinya Tiara benar-benar lelah. Ia tak berkata apa-apa. Ia tetap pergi begitu saja. Sama seperti saat Galang pergi meninggalkanku dulu. Apa ini juga akan terjadi pada Tiara.
“Tiara ! aku ikut!” kataku mengejarnya. Aku tak ingin hal yang sama terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar