Mei 06, 2014

Ujung Penantian (2)



Keesokan harinya aku datiang kembali di tempat itu. Secara raga mungkin aku telah lelah dan bosan menantimu. Namun hatiku. Apalah arti perasaan ini.
               “Galang, tempat ini masih sama. Apa dirimu juga masih sama?” tanyaku kepada bangku peron. Ku ambil buku catatanku. Ku tuliskan kereinduan ku terhadap Galang.
               “masih suka nulis di stasiun?” Tanya seorang penggunjung.
Ku tengok wajahnya. “Galang?” aku terkejut. Aku tak peraya.
               “hai! Apa kabarmu?” sapanya.
               Apa kau tak lihat kekecewaan di wajahku? “ohh.. aku baik. Bagaimana denganmu?” kataku dengan sedikit menahan tangis.
               “tak pernah sebaik ini sebelumnya.”
Aku berharap kau merasa baik karena aku, Galang. Bukan karena yang lain.
               “syukurlah kalau begitu.”
Kita berbincang, mengingat masa yang dulu indah. Bercerita tentang hidup yang kita alami selama tak bertemu. Menuangkan rindu di atas secangkir kopi yang kau bawa untukku.
   “Adrian !!” teriak seorang gadis ke arah aku dan Galang.
Aneh. Kenapa Galang menoleh? Entahlah.
  “Kinan!” sapa gadis itu.
  “ha ! Tiara !?” kataku dengan wajah setengah membiru.
Bagimana munglin ia memanggil Adrian tapi mendekat ke Galang.
  “kamu kenal dia ?” Tanya Galang padaku, dan mencairkan darahku yang hamper beku.
  “iya. Ini temen aku, lang.” jawabku tanpa basa-basi.
  “tunggu. lang? Kok lang?” Tanya Tiara.
  “jadi gini, di keluargaku aku dipanggil Galang. Tapi sama temen panggilnya Adrian.” Jawab Galang.
  “apa?” tanyaku dalam hati yang tersentak. Mendengar jawaban itu, aku senang juga sadikit kecewa atau.. entahlah. Satu sisi kalimat Galang mendandakan aku keluarganya. Tapi disisi lain ia menganggap Tiara adalah temannya. Tunggu bagaimana mereka bisa berteman ?
  “jadi ini pangeran kata yang kamu nanti sepanjang hari itu?” tanya Tiara padaku dengan raut wajah yang sepertinya begitu terkejut.
  “pangeran kata?” Galang terheran.
Kata-kata apa yang harus kuucapkan agar aku bisa aman. Otakku terasa beku. Aku masih tak mengerti bagaimana mereka berkenalan.
  “sayang, betapa indahnya wajahmu hari ini.”
Sayang? Galang memanggil Tiara dengan kata Sayang? Ada apa ini. Seorang yang aku harapkan.
  “Kinan. Kita duluan ya,” Galang memecah lamunanku. Aku tak menjawab. Tapi Ia tetep pergi bersama sahabatku yang tadi ia panggil “Sayang”.
  “penantianku? Semua rasa sakitku merindunya. Kini ia bayar dengan siraman air garam? Galang! Airmu itu tepat diatas luka rinduku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar