Keesokan harinya aku datiang
kembali di tempat itu. Secara raga mungkin aku telah lelah dan bosan menantimu.
Namun hatiku. Apalah arti perasaan ini.
“Galang,
tempat ini masih sama. Apa dirimu juga masih sama?” tanyaku kepada bangku
peron. Ku ambil buku catatanku. Ku tuliskan kereinduan ku terhadap Galang.
“masih
suka nulis di stasiun?” Tanya seorang penggunjung.
Ku tengok wajahnya. “Galang?” aku
terkejut. Aku tak peraya.
“hai!
Apa kabarmu?” sapanya.
Apa kau
tak lihat kekecewaan di wajahku? “ohh.. aku baik. Bagaimana denganmu?” kataku dengan
sedikit menahan tangis.
“tak
pernah sebaik ini sebelumnya.”
Aku berharap kau merasa baik
karena aku, Galang. Bukan karena yang lain.
“syukurlah
kalau begitu.”
Kita berbincang, mengingat masa
yang dulu indah. Bercerita tentang hidup yang kita alami selama tak bertemu.
Menuangkan rindu di atas secangkir kopi yang kau bawa untukku.
Aneh. Kenapa Galang menoleh?
Entahlah.
“Kinan!” sapa gadis itu.
“ha ! Tiara !?” kataku dengan
wajah setengah membiru.
Bagimana munglin ia memanggil
Adrian tapi mendekat ke Galang.
“kamu kenal dia ?” Tanya Galang
padaku, dan mencairkan darahku yang hamper beku.
“iya. Ini temen aku, lang.”
jawabku tanpa basa-basi.
“tunggu. lang? Kok lang?” Tanya Tiara.
“jadi gini, di keluargaku aku
dipanggil Galang. Tapi sama temen panggilnya Adrian.” Jawab Galang.
“apa?” tanyaku dalam hati yang
tersentak. Mendengar jawaban itu, aku senang juga sadikit kecewa atau..
entahlah. Satu sisi kalimat Galang mendandakan aku keluarganya. Tapi disisi
lain ia menganggap Tiara adalah temannya. Tunggu bagaimana mereka bisa berteman
?
“jadi ini pangeran kata yang kamu
nanti sepanjang hari itu?” tanya Tiara padaku dengan raut wajah yang sepertinya
begitu terkejut.
“pangeran kata?” Galang terheran.
Kata-kata apa yang harus
kuucapkan agar aku bisa aman. Otakku terasa beku. Aku masih tak mengerti
bagaimana mereka berkenalan.
“sayang, betapa indahnya wajahmu
hari ini.”
Sayang? Galang memanggil Tiara
dengan kata Sayang? Ada apa ini. Seorang yang aku harapkan.
“Kinan. Kita duluan ya,” Galang
memecah lamunanku. Aku tak menjawab. Tapi Ia tetep pergi bersama sahabatku yang
tadi ia panggil “Sayang”.
“penantianku? Semua rasa sakitku
merindunya. Kini ia bayar dengan siraman air garam? Galang! Airmu itu tepat
diatas luka rinduku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar