Mei 07, 2014

Ujung Penantian (versi lengkap)



Berteman sepi di sini. Tempat di mana awal tawa itu. Stasiun kota. Ya. Stasiun kota ini. Teringat betul saat kau tanyakan untuk apa aku di sini. Dan ku jawab aku hanya ingin numpang menulis. Kau tertawa, begitu lepas.
          “hanya numpang nulis?” tanyamu dengan sedikit menyembunyikan tawa.
Aku heran mengapa kau tertawa. “apa ada yang salah dengan yang aku lakukan ?” tanyaku.
Kau tak menjawab, kau bergegas pergi meninggalkanku.
          “anehh, apa dia sedikit..” kebinggungan ku padamu semakin jadi saat kau tinggal sebuah kertas di tempat dudukmu.
          “hey! Kau meninggalkan sesuatu!” teriakku nengingatkanmu.
Kau tetap berjalan masuk ke keretamu yang terlihat tak sabar untuk membawamu pergi dariku.
          “untukmu wanita asing
          Perlu kau tau beberapa hal. Ku pikir
hanya aku seorang yang melakukan kegilaan menulis di stasiun tanpa kejelasan. Ternyata kaupun begitu. Kau gila dengan kata.
Sesorang yang sama denganmu,”
          “sejak kapan ia menulis ini ?”
          Tapi mungkin iya kau dan aku sama. Mulai dari situ, kau selalu menemuiku setiap kau ingin menulis. Jarak Jogja dan Semarang seakan tak menjadi penghalang. Namun, beberapa saat ini. Setelah kita menemui Ujian Nasional dan berbincang dengannya kau jarang sekali datang. Apa kau cemburu pada UN? Bukankah selama aku bercanda dengannya, kau juga berdua-duaan bersamanya pula?
          “Kinan ? kau masih bertahan menunggu Galang ?” Tanya Tiara. Tiara, seorang yang beberapa hari ini aku racuni dengan kebiasaanku dan Galang. Iya. Aku ingin ia temukan gilanya menulis di stasiun. Tapi itu tak akan pernah berhasil. Tiara sahabatku yang paling bawel ini selalu punya alasan untuk menghindar dari racunku.
          “iya. UN telah usai. Pasti kini ia akan datang.”
          “aku mau pulang aku telah bosan. Menunggumu bertemu pangeran katamu itu.” Katanya sambil menggambil tas.
Aku diam tak mencegah. Aku juga merasakan kebosanan itu. Menunggu bahagia yang akan hadir saat Galang turun dari kereta.
          “kau tak ingin ikut?” Tanya Tiara yang sepertinya sangat kasihan melihat burung merpati ini menunggu pasangan gilanya.
          “pulanglah!” jawabku.
Sepertinya Tiara benar-benar lelah. Ia tak berkata apa-apa. Ia tetap pergi begitu saja. Sama seperti saat Galang pergi meninggalkanku dulu. Apa ini juga akan terjadi pada Tiara.
“Tiara ! aku ikut!” kataku mengejarnya. Aku tak ingin hal yang sama terjadi.
Keesokan harinya aku datang kembali di tempat itu. Secara raga mungkin aku telah lelah dan bosan menantimu. Namun hatiku. Apalah arti perasaan ini.
          “Galang, tempat ini masih sama. Apa dirimu juga masih sama?” tanyaku kepada bangku peron. Ku ambil buku catatanku. Ku tuliskan kerinduan ku terhadap Galang.
          “masih suka nulis di stasiun?” Tanya seorang penggunjung.
Ku tengok wajahnya. “Galang?” aku terkejut. Aku tak peraya.
          “hai! Apa kabarmu?” sapanya.
          Apa kau tak lihat kekecewaan di wajahku? “ohh.. aku baik. Bagaimana denganmu?” kataku dengan sedikit menahan tangis.
          “tak pernah sebaik ini sebelumnya.”
Aku berharap kau merasa baik karena aku, Galang. Bukan karena yang lain.
          “syukurlah kalau begitu.”
Kita berbincang, mengingat masa yang dulu indah. Bercerita tentang hidup yang kita alami selama tak bertemu. Menuangkan rindu di atas secangkir kopi yang kau bawa untukku.
“Adrian !!” teriak seorang gadis ke arah aku dan Galang.
Aneh. Kenapa Galang menoleh? Entahlah.
“Kinan!” sapa gadis itu.
“ha ! Tiara !?” kataku dengan wajah setengah membiru.
Bagimana mungkin ia memanggil Adrian tapi mendekat ke Galang.
“kamu kenal dia ?” Tanya Galang padaku, dan mencairkan darahku yang hampir beku.
“iya. Ini temen aku, lang.” jawabku tanpa basa-basi.
 “tunggu. lang? Kok lang?” Tanya Tiara.
“jadi gini, di keluargaku aku dipanggil Galang. Tapi sama temen panggilnya Adrian.” Jawab Galang.
“apa?” tanyaku dalam hati yang tersentak. Mendengar jawaban itu, aku senang juga sedikit kecewa atau.. entahlah. Satu sisi kalimat Galang menandakan aku keluarganya. Tapi disisi lain ia menganggap Tiara adalah temannya. Tunggu bagaimana mereka bisa berteman ?
“jadi ini pangeran kata yang kamu nanti sepanjang hari itu?” tanya Tiara padaku dengan raut wajah yang sepertinya begitu terkejut.
“pangeran kata?” Galang terheran.
Kata-kata apa yang harus ku ucapkan agar aku bisa aman. Otakku terasa beku. Aku masih tak mengerti bagaimana mereka berkenalan.
“sayang, betapa indahnya wajahmu hari ini.”
Sayang? Galang memanggil Tiara dengan kata Sayang? Ada apa ini. Seorang yang aku harapkan.
“Kinan. Kita duluan ya,” Galang memecah lamunanku. Aku tak menjawab. Tapi Ia tetep pergi bersama sahabatku yang tadi ia panggil “Sayang”.
“penantianku? Semua rasa sakitku merindunya. Kini ia bayar dengan siraman air garam? Galang! Airmu itu tepat diatas luka rinduku.”

Waktu terus berjalan ke depan. Mengukir cerita setiap detiknya. Aku sendiri yang masih terdiam bisu di ruang waktu lalu.
“kemarin. Kemarin. Pikiran ini. Kemarin. Dunia terasa putih. Ku pikir aku akan dapatkan bahagia itu lagi. Nyatanya tangis membajiri hari-hariku kini.” Kataku pada buku yang bisu mendengarku.
Sudah dapat di tebak bukan di mana aku sekarang. Aku benar-benar terpenjara disini. Andaikan Galang adalah para kuda kereta. Tentu aku akan bahagia. Ia akan setia datang kembali ke stasiun ini meski banyak stasiun tlah ia singgahi.
“apa yang sedang dilakukan seorang gadis muda di stasiun kota sendirianan. Menanti pacarkah? Sebegitu haruskah penantianmu itu?” kata seorang disampingku duduk. Entah siapa dia. “Sammy.” Lanjutnya sambil mengulurkan tangan.
Aku tak menjawab apapun. Aku kembali diingatkan pada  Galang. Lagi.
“nona, saya berbicara pada anda.” Laki-laki itu menatapku.
Aku pun menatapnya jua. Meihat mata cokelat yang begitu indah. Aku sama sekali tak sadar aku menatap orang asing ini terlalu dekat.
“nona, apa kau baik-baik saja?” tanyanya.
Aku terkejut. “iya, saya baik-baik saja.” Jawabku dengan wajah merah menahan malu.
“mari kita ulang. Sammy. Dan kauuu?”
“Kinan.”
“ohh. Jika pertanyaanku tadi kau jawab tentu aku akan merasa senang.”
“maaf, pertanyaan apa ya ?”
Sammy tertawa. “sudahlah, lupakan aku rasa kau sedang galau.” Lanjutnya.
Kalau boleh jujur aku tak mengerti dengan tingkahnya. Mengapa ia tiba-tiba dating. Darimana asalnya. Apa urusanya denganku. Tak banyak kata yang aku bincangkan dengannya. Aku hanya tak ingin kejadian dengan Galang terulang. Cukup lama laki-laki ini ada di sampingku. Duduk sambil bermain ponsel pintarnya. Sesekali ia tertawa kecil di depan layar yang lumayan bersar itu.
Tiba-tiba ia memberikan ponsel pintarnya kepadaku.
“ untuk apa ?”
“siapa tau aku membutuhkanmu dan kau pun membutuhkan aku. Tulislah nomormu ponselmu.”
Aku hanya diam. Dan dia sepertiinya sadar bahwa aku tak ingin memberikan nomor ponselku. Ia mengambil buku catatan di tanganku. Dan ia menuliskan nomor ponselnya.
“baiklah, hubungi aku jika kau membutuhkanku. Sekedar curhat atau apalah. Aku pulang dulu. Sampai jumpa.”
 Kalimat terakhir yang aku dengar dari laki-laki yang aku baru saja aku kenal. Karena setelah pulang dari stasiun aku sama sekali tak pernah berjumpa dengannya. Sebenarnya aku ingin menghubunginya, tapi aku bingung untuk apa. Padahal bisa saja ia membantuku melupakan Galang. Tapi sudahlah.
Terakhir kali aku ke stasiun hanya saat aku bertemu Sammy. Setelahnya, kaki ku tak mampu untuk berjalan dan mataku terlalu sakit mentap masa lalu.
Kini aku menjali hidupku tanpa keistimewaan lagi. Hidup biasa, tapi tak seperti biasanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar