Berteman
sepi di sini. Tempat di mana awal tawa itu. Stasiun kota. Ya. Stasiun kota ini.
Teringat betul saat kau tanyakan untuk apa aku di sini. Dan ku jawab aku hanya
ingin numpang menulis. Kau tertawa, begitu lepas.
“hanya numpang nulis?” tanyamu dengan
sedikit menyembunyikan tawa.
Aku
heran mengapa kau tertawa. “apa ada yang salah dengan yang aku lakukan ?”
tanyaku.
Kau
tak menjawab, kau bergegas pergi meninggalkanku.
“anehh, apa dia sedikit..”
kebinggungan ku padamu semakin jadi saat kau tinggal sebuah kertas di tempat
dudukmu.
“hey! Kau meninggalkan sesuatu!”
teriakku nengingatkanmu.
Kau
tetap berjalan masuk ke keretamu yang terlihat tak sabar untuk membawamu pergi
dariku.
“untukmu wanita asing
Perlu kau tau beberapa hal. Ku pikir
hanya aku seorang yang melakukan kegilaan menulis di stasiun tanpa kejelasan.
Ternyata kaupun begitu. Kau gila dengan kata.
Sesorang yang sama denganmu,”
“sejak
kapan ia menulis ini ?”
Tapi mungkin iya kau dan aku sama.
Mulai dari situ, kau selalu menemuiku setiap kau ingin menulis. Jarak Jogja dan
Semarang seakan tak menjadi penghalang. Namun, beberapa saat ini. Setelah kita
menemui Ujian Nasional dan berbincang dengannya kau jarang sekali datang. Apa
kau cemburu pada UN? Bukankah selama aku bercanda dengannya, kau juga
berdua-duaan bersamanya pula?
“Kinan ? kau masih bertahan menunggu
Galang ?” Tanya Tiara. Tiara, seorang yang beberapa hari ini aku racuni dengan
kebiasaanku dan Galang. Iya. Aku ingin ia temukan gilanya menulis di stasiun.
Tapi itu tak akan pernah berhasil. Tiara sahabatku yang paling bawel ini selalu
punya alasan untuk menghindar dari racunku.
“iya. UN telah usai. Pasti kini ia
akan datang.”
“aku mau pulang aku telah bosan.
Menunggumu bertemu pangeran katamu itu.” Katanya sambil menggambil tas.
Aku
diam tak mencegah. Aku juga merasakan kebosanan itu. Menunggu bahagia yang akan
hadir saat Galang turun dari kereta.
“kau tak ingin ikut?” Tanya Tiara yang
sepertinya sangat kasihan melihat burung merpati ini menunggu pasangan gilanya.
“pulanglah!” jawabku.
Sepertinya
Tiara benar-benar lelah. Ia tak berkata apa-apa. Ia tetap pergi begitu saja.
Sama seperti saat Galang pergi meninggalkanku dulu. Apa ini juga akan terjadi
pada Tiara.
“Tiara
! aku ikut!” kataku mengejarnya. Aku tak ingin hal yang sama terjadi.
Keesokan
harinya aku datang kembali di tempat itu. Secara raga mungkin aku telah lelah
dan bosan menantimu. Namun hatiku. Apalah arti perasaan ini.
“Galang, tempat ini masih sama. Apa
dirimu juga masih sama?” tanyaku kepada bangku peron. Ku ambil buku catatanku.
Ku tuliskan kerinduan ku terhadap Galang.
“masih suka nulis di stasiun?” Tanya
seorang penggunjung.
Ku
tengok wajahnya. “Galang?” aku terkejut. Aku tak peraya.
“hai! Apa kabarmu?” sapanya.
Apa kau tak lihat kekecewaan di
wajahku? “ohh.. aku baik. Bagaimana denganmu?” kataku dengan sedikit menahan
tangis.
“tak pernah sebaik ini sebelumnya.”
Aku
berharap kau merasa baik karena aku, Galang. Bukan karena yang lain.
“syukurlah kalau begitu.”
Kita
berbincang, mengingat masa yang dulu indah. Bercerita tentang hidup yang kita
alami selama tak bertemu. Menuangkan rindu di atas secangkir kopi yang kau bawa
untukku.
“Adrian !!” teriak seorang gadis ke arah aku dan
Galang.
Aneh. Kenapa Galang menoleh? Entahlah.
“Kinan!” sapa gadis itu.
“ha ! Tiara !?” kataku dengan wajah setengah
membiru.
Bagimana mungkin ia memanggil Adrian tapi
mendekat ke Galang.
“kamu kenal dia ?” Tanya Galang padaku, dan
mencairkan darahku yang hampir beku.
“iya. Ini temen aku, lang.” jawabku tanpa
basa-basi.
“tunggu.
lang? Kok lang?” Tanya Tiara.
“jadi gini, di keluargaku aku dipanggil Galang.
Tapi sama temen panggilnya Adrian.” Jawab Galang.
“apa?” tanyaku dalam hati yang tersentak.
Mendengar jawaban itu, aku senang juga sedikit kecewa atau.. entahlah. Satu
sisi kalimat Galang menandakan aku keluarganya. Tapi disisi lain ia menganggap
Tiara adalah temannya. Tunggu bagaimana mereka bisa berteman ?
“jadi ini pangeran kata yang kamu nanti
sepanjang hari itu?” tanya Tiara padaku dengan raut wajah yang sepertinya
begitu terkejut.
“pangeran kata?” Galang terheran.
Kata-kata apa yang harus ku ucapkan agar aku
bisa aman. Otakku terasa beku. Aku masih tak mengerti bagaimana mereka
berkenalan.
“sayang, betapa indahnya wajahmu hari ini.”
Sayang? Galang memanggil Tiara dengan kata
Sayang? Ada apa ini. Seorang yang aku harapkan.
“Kinan. Kita duluan ya,” Galang memecah
lamunanku. Aku tak menjawab. Tapi Ia tetep pergi bersama sahabatku yang tadi ia
panggil “Sayang”.
“penantianku? Semua rasa sakitku merindunya.
Kini ia bayar dengan siraman air garam? Galang! Airmu itu tepat diatas luka
rinduku.”
Waktu terus berjalan ke depan. Mengukir cerita
setiap detiknya. Aku sendiri yang masih terdiam bisu di ruang waktu lalu.
“kemarin. Kemarin. Pikiran ini. Kemarin. Dunia
terasa putih. Ku pikir aku akan dapatkan bahagia itu lagi. Nyatanya tangis
membajiri hari-hariku kini.” Kataku pada buku yang bisu mendengarku.
Sudah dapat di tebak bukan di mana aku sekarang.
Aku benar-benar terpenjara disini. Andaikan Galang adalah para kuda kereta.
Tentu aku akan bahagia. Ia akan setia datang kembali ke stasiun ini meski
banyak stasiun tlah ia singgahi.
“apa yang sedang dilakukan seorang gadis muda di
stasiun kota sendirianan. Menanti pacarkah? Sebegitu haruskah penantianmu itu?”
kata seorang disampingku duduk. Entah siapa dia. “Sammy.” Lanjutnya sambil
mengulurkan tangan.
Aku tak menjawab apapun. Aku kembali diingatkan
pada Galang. Lagi.
“nona, saya berbicara pada anda.” Laki-laki itu
menatapku.
Aku pun menatapnya jua. Meihat mata cokelat yang
begitu indah. Aku sama sekali tak sadar aku menatap orang asing ini terlalu
dekat.
“nona, apa kau baik-baik saja?” tanyanya.
Aku terkejut. “iya, saya baik-baik saja.”
Jawabku dengan wajah merah menahan malu.
“mari kita ulang. Sammy. Dan kauuu?”
“Kinan.”
“ohh. Jika pertanyaanku tadi kau jawab tentu aku
akan merasa senang.”
“maaf, pertanyaan apa ya ?”
Sammy tertawa. “sudahlah, lupakan aku rasa kau
sedang galau.” Lanjutnya.
Kalau boleh jujur aku tak mengerti dengan
tingkahnya. Mengapa ia tiba-tiba dating. Darimana asalnya. Apa urusanya
denganku. Tak banyak kata yang aku bincangkan dengannya. Aku hanya tak ingin
kejadian dengan Galang terulang. Cukup lama laki-laki ini ada di sampingku.
Duduk sambil bermain ponsel pintarnya. Sesekali ia tertawa kecil di depan layar
yang lumayan bersar itu.
Tiba-tiba ia memberikan ponsel pintarnya
kepadaku.
“ untuk apa ?”
“siapa tau aku membutuhkanmu dan kau pun
membutuhkan aku. Tulislah nomormu ponselmu.”
Aku hanya diam. Dan dia sepertiinya
sadar bahwa aku tak ingin memberikan nomor ponselku. Ia mengambil buku catatan
di tanganku. Dan ia menuliskan nomor ponselnya.
“baiklah, hubungi aku jika kau membutuhkanku.
Sekedar curhat atau apalah. Aku pulang dulu. Sampai jumpa.”
Kalimat
terakhir yang aku dengar dari laki-laki yang aku baru saja aku kenal. Karena
setelah pulang dari stasiun aku sama sekali tak pernah berjumpa dengannya.
Sebenarnya aku ingin menghubunginya, tapi aku bingung untuk apa. Padahal bisa
saja ia membantuku melupakan Galang. Tapi sudahlah.
Terakhir kali aku ke stasiun hanya saat aku bertemu
Sammy. Setelahnya, kaki ku tak mampu untuk berjalan dan mataku terlalu sakit
mentap masa lalu.
Kini aku menjali hidupku tanpa keistimewaan
lagi. Hidup biasa, tapi tak seperti biasanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar